
JAKARTA, NTV.co.id – Istana Kepresidenan secara resmi mengumumkan pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Pengumuman tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (27/7/2026).
Perry Warjiyo telah memimpin Bank Indonesia selama dua periode. Ia pertama kali dilantik pada 24 Mei 2018 menggantikan Agus Martowardojo. Kemudian dilantik kembali untuk periode kedua pada 2023.
Selama masa kepemimpinannya, Perry dikenal sebagai arsitek kebijakan moneter di tengah berbagai tantangan global. Mulai dari pandemi Covid-19, gejolak inflasi, hingga penguatan digitalisasi sistem pembayaran nasional melalui QRIS dan BI-Rapid.
Kontribusi Selama Menjabat
Beberapa kebijakan penting di era Perry Warjiyo antara lain:
- Stabilitas Makro: Menjaga inflasi tetap terkendali meski tekanan global tinggi
- Digitalisasi: Mendorong transformasi sistem pembayaran digital dan QRIS yang kini digunakan jutaan UMKM
- Sinergi Keketuaan G20: BI berperan aktif saat Indonesia menjadi Presidensi G20 2022
“Pak Perry adalah sosok yang tenang namun tegas. Di bawah kepemimpinannya, BI berhasil menjaga kredibilitas di mata internasional,” ujar seorang ekonom senior.
Tunggu Pengganti Resmi
Dalam pengumuman tersebut, Istana belum merinci alasan pasti pengunduran diri Perry dan belum menyebut nama pengganti.
Sesuai UU, penunjukan Gubernur BI harus melalui persetujuan DPR RI. Presiden akan mengajukan calon baru untuk kemudian mengikuti uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR.
Sampai pengganti definitif ditetapkan, dipastikan roda kebijakan moneter BI akan tetap berjalan. Deputi Gubernur Senior diproyeksikan menjadi Pelaksana Tugas sementara.
Respon Pasar
Pengumuman ini langsung menjadi perhatian pelaku pasar. Analis menilai transisi kepemimpinan di BI harus dijaga agar tidak menimbulkan volatilitas berlebihan pada rupiah dan imbal hasil SBN.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Bank Indonesia belum memberikan pernyataan resmi lebih lanjut.

