Blog  

KOMITMEN NET ZERO 2060, KPwBI BENGKULU KOMPENSASI 100 TON CO2e HINGGA OLAH LIMBAH UANG JADI ENERGI

ForBengkulu.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bengkulu terus memperkuat perannya sebagai pelopor ekonomi hijau di daerah. Tidak hanya menjaga stabilitas moneter, KPwBI Bengkulu kini tampil sebagai teladan dalam penerapan keuangan berkelanjutan melalui kompensasi emisi karbon sebesar 100 ton CO₂e melalui Bursa Karbon Indonesia.

Komitmen tersebut ditandai dengan penyerahan Sertifikat Carbon Offset kepada Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, pada 16 Oktober 2026 lalu.

Sertifikat diserahkan langsung oleh Abdul Munim selaku Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko, bersama Edwin Hartanto, Kepala Pengembangan Carbon Trading dan Inisiatif Baru PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kompensasi Lewat IDXCarbon, Bagian dari SEHATI 2026

Kompensasi 100 ton CO₂e dilakukan melalui mekanisme retirement Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) pada platform IDXCarbon. Langkah ini merupakan implementasi nyata dari program Sinergi Ekonomi dan Keuangan Hijau dan Inklusif (SEHATI) 2026.

Sebelumnya, KPwBI Bengkulu telah melakukan pengukuran jejak karbon secara komprehensif terhadap seluruh aktivitas operasional periode Januari hingga Oktober 2026. Hasilnya, total emisi yang dihasilkan mencapai sekitar 98,5 ton CO₂e.

Penghitungan tersebut mencakup penggunaan energi listrik gedung kantor, operasional kendaraan dinas, perjalanan dinas pegawai, hingga penyelenggaraan berbagai kegiatan kelembagaan, seperti BRIEF 2026 dan Benfest 2026.

Data tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi emisi yang terukur dan berkelanjutan.

Menariknya, unit karbon yang digunakan untuk kompensasi bukan sembarang proyek. Unit tersebut berasal dari proyek Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) Sei Mangkei berkapasitas 2,4 MW di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Proyek ini memanfaatkan limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai sumber energi terbarukan. Selain menghasilkan listrik bersih, proyek ini juga berkontribusi besar dalam pengurangan emisi metana dari limbah sawit.

Perluas Penghijauan, Tanam dan Distribusikan 500 Bibit Pohon

Komitmen hijau BI Bengkulu tidak hanya melalui mekanisme pasar karbon. Di lapangan, BI Bengkulu memperkuat upaya pelestarian lingkungan melalui aksi penghijauan yang melibatkan lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, BUMN, TNI, kelompok tani, hingga masyarakat.

Hingga Oktober 2026, berbagai kegiatan telah dilaksanakan, di antaranya penanaman dan distribusi sebanyak 500 bibit pohon produktif serta partisipasi aktif dalam gerakan penanaman mangrove untuk menjaga kelestarian ekosistem pesisir Bengkulu.

Kolaborasi ini diharapkan mampu memperluas gerakan penghijauan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keseimbangan alam.

12,6 Ton Limbah Uang Kertas Diolah Jadi Energi dan Paving Block

Langkah paling inovatif dilakukan BI Bengkulu melalui pengelolaan Limbah Racik Uang Kertas (LRUK) dengan pendekatan ekonomi sirkular.

Sebanyak 12,6 ton LRUK telah dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif (co-firing) di PLN Nusantara Power, Muara Enim, Sumatera Selatan. Dari pemanfaatan tersebut, berhasil dihasilkan energi listrik lebih dari 14.485 kWh.

Tidak berhenti di situ, residu hasil pembakaran LRUK juga tidak dibuang. Residu tersebut dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku pembuatan paving block. Paving block tersebut kemudian digunakan untuk mendukung pembangunan area urban farming dalam Program Jaga Dapur di lingkungan rumah dinas KPwBI Bengkulu.

Langkah ini menjadi bentuk nyata penerapan prinsip reduce, reuse, recycle melalui pengurangan volume limbah, pemanfaatan kembali material, serta penciptaan nilai tambah dari sisa pengolahan.

Program Jaga Dapur sendiri diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan produktif dan memperkuat ketahanan pangan rumah tangga, yang sekaligus mendukung upaya pengendalian inflasi di Bengkulu melalui pengembangan urban farming.

Leading by Example Menuju Net Zero 2060

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menegaskan bahwa berbagai inisiatif tersebut merupakan bagian dari komitmen Bank Indonesia dalam mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam pelaksanaan tugas dan operasional kelembagaan.

“Inisiatif carbon offset merupakan bagian dari transformasi berkelanjutan yang kami lakukan untuk memastikan bahwa setiap aktivitas kelembagaan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan. Melalui pengukuran jejak karbon, pengurangan emisi, penghijauan, pengelolaan limbah, dan kompensasi karbon, KPwBI Bengkulu berupaya menjadi contoh nyata dalam penerapan ekonomi dan keuangan hijau,” ujar Wahyu Yuwana Hidayat.

Menurutnya, penerapan berbagai program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya kerja yang semakin ramah lingkungan sekaligus memperkuat peran Bank Indonesia sebagai institusi yang memberikan teladan atau leading by example dalam praktik operasional berkelanjutan.

Ke depan, KPwBI Bengkulu akan terus memperluas sinergi bersama pemerintah daerah, BUMN, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong penerapan ekonomi rendah karbon.

Langkah tersebut akan dilanjutkan melalui pengukuran jejak karbon secara berkala, peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi pengelolaan limbah, pengembangan kegiatan penghijauan, serta evaluasi kebutuhan kompensasi karbon di masa mendatang.

Melalui berbagai upaya tersebut, BI Bengkulu menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan hijau yang inklusif dan berkelanjutan, sekaligus berkontribusi terhadap agenda transisi ekonomi rendah karbon dan pencapaian target Net Zero Emission Indonesia pada 2060 atau lebih cepat.

(Redaksi ForBengkulu.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *