Blog  

Framing Tempo Tidak Adil, Ciptakan Narasi Bias terhadap Nasdem

Bengkulu — Ketua DPW Partai NasDem Provinsi Bengkulu, Erna Sari Dewi, menyampaikan kritik tegas terhadap pemberitaan Majalah Tempo yang dinilai tidak hanya lemah secara fakta, tetapi juga membangun framing yang tidak adil terhadap Partai NasDem dan Ketua Umumnya, Surya Paloh.

Dalam pernyataannya, Erna menegaskan bahwa pemberitaan tersebut lebih banyak dipenuhi insinuasi dibandingkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Berita Tempo penuh insinuasi. Faktanya sangat minim. Lebih tepat disebut gosip clickbait ketimbang jurnalisme. Tempo merusak kredibilitasnya sendiri yang selama ini dikenal dengan jurnalisme investigatifnya,” tegas Erna.

Lebih lanjut, Erna menyoroti adanya inkonsistensi logika dalam framing yang dibangun. Menurutnya, pemberitaan tersebut secara implisit menggambarkan posisi Partai NasDem sebagai pihak yang “ditawarkan” dalam konfigurasi kekuasaan. Namun, secara bersamaan, narasi yang dibangun justru menyudutkan NasDem seolah-olah menjadi pihak yang paling berkeinginan dan oportunis.

“Dalam framing yang mereka bangun, seolah-olah NasDem berada pada posisi ditawarkan. Artinya, secara logika, posisi kami pasif. Tetapi anehnya, justru NasDem yang disudutkan, bahkan Ketua Umum Bapak Surya Paloh yang menjadi sasaran, seolah-olah kami sangat berkeinginan dan sangat oportunis. Ini jelas tidak adil dan menunjukkan bias yang serius dalam cara pemberitaan disusun,” ujar Erna.

Erna juga menegaskan bahwa selama masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Partai NasDem tidak pernah berada dalam posisi meminta atau mengejar jabatan di pemerintahan.

“Faktanya selama masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Partai NasDem tidak mengemis-ngemis jabatan ke pemerintah. Tapi, mereka men-framing seolah-olah partai kami paling oportunis,” lanjutnya.

Menurut Erna, konstruksi narasi yang kontradiktif seperti ini bukan hanya menyesatkan publik, tetapi juga merusak kualitas diskursus demokrasi. Ia menilai bahwa pemberitaan semacam ini lebih mengedepankan sensasi dibandingkan akurasi dan keseimbangan informasi.

Sebagai penutup, Erna mengingatkan bahwa kebebasan pers harus dijalankan dengan tanggung jawab yang tinggi, terutama dalam menjaga integritas dan kepercayaan publik.

“Pers memiliki peran strategis dalam demokrasi. Namun ketika framing dibangun tanpa konsistensi logika dan basis fakta yang kuat, maka yang terjadi bukan lagi jurnalisme yang mencerahkan, melainkan pembentukan opini ya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *