
Wagub Sampai Turun ke Sawah! Panen Raya di Mukomuko Bareng Bupati, Wabup & Bank Indonesia
MUKOMUKO — Suasana hamparan sawah di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, tampak berbeda pada kegiatan panen bersama yang didokumentasikan pada Selasa, 4 November 2026. Para pimpinan daerah turun langsung ke sawah, bukan sekadar seremonial, tapi ikut merasakan langsung denyut nadi petani.

Kegiatan panen bersama tersebut dihadiri oleh Wakil Gubernur Bengkulu, Bupati Mukomuko, Wakil Bupati Mukomuko, bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat.

Adapun pejabat yang hadir adalah Wakil Gubernur Bengkulu Mian, Bupati Mukomuko H. Choirul Huda, SH, Wakil Bupati Mukomuko Rahmadi AB, dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat.
Terlihat para pimpinan dan petani menggunakan mesin combine harvester untuk memanen padi di hamparan sawah yang menguning. Mesin modern itu menjadi simbol transformasi pertanian Mukomuko — dari cara manual menuju pertanian yang lebih cepat, efisien, dan menguntungkan petani.
Rombongan Pejabat berfoto bersama di tengah sawah bersama para petani dan penyuluh, dengan latar hamparan padi dan pepohonan. Keakraban terlihat jelas: tidak ada jarak antara pejabat dan petani.

Bukan Sekadar Panen, Tapi Pesan Ketahanan Pangan
Panen bersama ini bukan hanya soal memotong padi. Ada tiga pesan besar yang ingin disampaikan:
- Mukomuko adalah Lumbung Pangan Bengkulu
Mukomuko selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penyangga pangan utama di Bengkulu. Panen di Mukomuko berarti pasokan beras Bengkulu aman, harga di pasar stabil, dan petani sejahtera. - Sinergi Pemerintah dan Bank Indonesia
Kehadiran Bank Indonesia dalam panen ini menegaskan peran BI tidak hanya soal uang dan inflasi, tapi juga soal menjaga pasokan pangan dari hulu. Dalam berbagai kegiatan sebelumnya, BI Bengkulu secara konsisten mendorong sinergi gotong royong dalam pengendalian inflasi lewat ketahanan pangan. Panen ini adalah bukti nyata dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) — inflasi ditekan dari sawah, bukan hanya dari rapat. - Petani Butuh Teknologi dan Kepastian Harga
Penggunaan combine harvester menunjukkan bahwa petani Mukomuko kini didorong untuk naik kelas. Panen lebih cepat, susut hasil lebih kecil, dan biaya lebih hemat. Ditambah dengan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen sebesar Rp 6.500 per kilogram yang selama ini dinilai memperkuat posisi tawar petani, harapan petani untuk sejahtera semakin terbuka.


